Pasca lebaran Idul Fitri 1429 H panitia kemitraan (Pakem) Se Kabupaten Kendal sudah memulai pekerjaan pelaksanan program PAKET. Dana yang digunakan untuk melakukan pekerjaan awal diambilkan dari dana swadaya. Dana swadaya Desa dan BKM yang sudah terkumpul kemudian dibelanjakan terlebih dahulu untuk memulai pekerjaan sambil menunggu proses pencairan dana APBD dan APBN. Dengan strategi tersebut, pekerjaan yang rawan terkena dampak musim hujan akan bisa terhindari dan pekerjaan dapat selesai lebih awal. Sampai berita ini diturunkan (13/11/2008) dana yang sudah masuk ke rekening Pakem berasal dari dana APBD.
“Dana tersebut telah diterima Pakem dan digunakan untuk meneruskan pekerjaan”, kata Shobirin. Selain itu untuk penerima dana APBN, dokumen pencairan tahap I sudah dimasukkan, dan dana sudah masuk ke rekening Pakem, tinggal menunggu rekomendasi Bappeda Kendal. “Kualitas pekerjaan harus diutamakan” demikian imbuh Shobirin.
Untuk menjaga kualitas pekerjaan yang sedang dilakukan Tim Pokja bersama tim faskel paket terus melakukan monitoring dan evaluasi (monev). Setelah liburan Idul Fitri, tim faskel dan tim pokja telah melakukan monitoring dan evaluasi secara formal sebanyak dua kali. Monev pertama berkaitan dengan kesiapan swadaya masyarakat sedangkan monev kedua dititikberatkan pada pendampingan administrasi (dokumen pencairan dan SPJ) dan pemantauan kualitas pekerjaan.
Selama Monev kedua, Pokja beserta Faskel memberikan masukan kepada Pakem terkait pekerjaan. Secara garis besar kualitas pekerjaan yang dilakukan Pakem sampai saat ini masih memenuhi standar. Menanggapi Monev yang dilakukan Pokja, Cahyanto selaku ketua tim 5 mengungkapkan bahwa monev yang diadakan Pokja bukan untuk mencari kesalahan, tetapi lebih pada pendampingan. “Kita bisa memberikan masukan bila ada kesulitan lapangan yang dialami Pakem” ungkap Cahyanto.
Sebagai contoh, pemantauan yang dilakukan tim 5 di Desa Plantaran. Disana bisa terlihat bahwa pekerjaan SPAL yang dilakukan oleh PAKEM sudah memenuhi standar, hanya perlu finishing. “yang pinggir-pinggir ini dirapikan ya pak. Nanti biar tidak cuwil” kata Cahyanto kepada PAKEM.
Selain pemantauan secara formal, Korkot Kendal melalui Faskel tim PAKET sering turun ke lapangan melihat kondisi perkembangan pelaksanaan PAKET dan mendampingi langsung kegiatan masyarakat dalam melaksanakan pekerjaan PAKET. Hal ini dimaksudkan agar setiap proses pelaksanaan PAKET berjalan sebagaimana mestinya dan menjaga kualitas pekerjaan agar memiliki nilai guna yang lama.
“Kita berkomitmen untuk mengawal Paket ini supaya berjalan sebagaimana mestinya dan mempunyai nilai guna di masyarakat”, kata Wawan, senior fasilitator. Lebih lanjut, Wawan mengatakan dengan semakin seringnya turun ke lapangan akan memudahkan dan mampu mendeteksi lebih dini atas permasalahan yang terjadi selama program Paket berjalan.
Meskipun begitu program Paket di Kabupaten Kendal bukan berarti tanpa halangan apapun. Salah satu permasalahan krusial yang sempat mengemuka adalah naiknya harga-harga material. Dikhawatirkan dengan naiknya harga material akan mempengaruhi kualitas pekerjaan. Hal ini tidak berlebihan karena Rencana Anggaran Biaya (RAB) disusun sebelum kenaikan harga material. Menanggapi hal tersebut, Alfan selaku Faskel Teknik Tim PAKET menanggapi bahwa kenaikan harga material bisa disiasati tanpa mengurangi kwalitas pekerjaan.
Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melakukan efisiensi anggaran. “Ada beberapa pos anggaran yang bisa dihemat”, terang Alfan. Selain itu yang bisa dilakukan adalah menggiatkan program chanelling dengan berbagai pihak, termasuk peningkatan swadaya masyarakat. Sementara itu Bari, anggota BKM Mekar Sari Desa Plantaran sekaligus Koordinator PAKEM Lancar Air (SPAL), mengungkapkan dalam menghadapi kenaikan bahan material Pakem-nya telah melakukan efisiensi anggaran tanpa mengurangi kualitas pekerjaan.
“Kualitas tetap dipertahankan” ujar Bari. Namun, beliau menambahkan, bila kenaikan harga terus terjadi akan semakin menyulitkan Pakem untuk bisa melakukan efisiensi.
RR (repayment rate)
Untuk bisa mencairkan dana APBN salah satu syarat yang harus dipenuhi BKM penerima dana APBN adalah menjaga tingkat pengembalian (repayment rate / rr) minimal 80%. “Saya sudah meminta reken-rekan faskel ekonomi untuk selalu mendampingi UPK” terang Wawan. Diharapkan faskel mampu memberikan motivasi kepada BKM untuk menyadarkan dan menggerakkan masyarakat agar lebih bertanggungjawab terhadap pinjaman-pinjaman terhadap BKM.
Selain itu, dengan pendampingan yang dilakukan oleh Faskel mampu memberikan pemecahan masalah kaitannya dengan piutang yang tidak tertagih. “Kita selalu menyarankan untuk melakukan penagihan harian dan dilakukan audit internal secara berkala” tukas Windri Faskel Ekonomi. Untuk itu dibutuhkan kerjasama semua pihak agar penagihan yang dilakukan bisa efektif.
Selain melakukan penagihan, faskel selalu menekankan kepada penagih untuk melakukan edukasi kepada KSM peminjam. Edukasi yang dimaksudkan adalah tentang pinjaman yang dilakukan hanya merupakan dana stimulant untuk pengembangan ekonomi mereka dan dana yang dipinjamkan merupakan dana hutang dari world bank sehingga perlu dikembalikan oleh Negara. Diharapkan dengan edukasi seperti ini masyarakat semakin sadar untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas hidupnya.(Swara Mandiri)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|










