PNPM Mandiri Perkotaan

KMW Provinsi Jawa Tengah | WGA Jakarta - LP2M Semarang

  • Perbesar ukuran huruf
  • Default
  • Perkecil ukuran huruf
Home Artikel Umum Sosok Yang Heterogen dan Peduli

Sosok Yang Heterogen dan Peduli

Hendro MartojoMenjadi Bupati seperti beserta dengan seluk beluk birokrasinya, tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Drs. H. Hendro Martojo, MM, Bupati Jepara periode 2002 – 2007. Saat masih remaja, putra dari pasangan Hasan Prawiro Sudirdjo dan Oeminah yang lahir di Pati, Jawa Tengah, tahun 1953 ini justru mempunyai cita-cita menjadi seorang pilot. “Sebab pada tahun 60-an, kita banyak didengung-dengungkan mempunyai angkatan udara yang kuat di kawasan Asia Tenggara“, ujar suami dari Hj. Endang Budhiwati ini. Meski berasal dari keluarga yang sederhana, namun niat kedua orang tuanya mempunyai keinginan yang kuat agar anak-anaknya bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Lulus SD, Hendro melanjutkan ke SMPN 1 Pati. Meski jarak sekolah dari rumahnya cukup jauh, sekitar 12 kilometer, hal ini tidak menyurutkan niat Hendro untuk melanjutkan sekolah.

Berangkat ke sekolah dengan naik kereta api sudah menjadi kebiasaannya di waktu kecil. Ada cerita yang cukup menarik sewaktu ia berangkat sekolah naik kereta ini. Jarak sekolah dengan stasiun cukup jauh saat itu, sekitar 2 kikometer, maka Hendro remaja memilih loncat dari kereta api ketika sampai di depan sekolah. “Kalau tidak loncat pasti terlambat atau paling tidak harus lari dari stasiun ke sekolahan,” ungkap Hendro mengenang masa kecilnya. Selesai dari SMP, ia melanjutkan di SMA Negari 1 Pati dengan predikat baik. Karena kekurangan biaya melanjutkan kuliah, ia memilih mendaftar di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Semarang. Lulus dari APDN tahun 1975, Hendro Martojo ditempatakan sebagai PNS di Kabupaten Jepara.

Karena prestasi akademik yang tergolong istimewa ini, membuat Bupati Jepara waktu itu Sudikto, SH mengangkatnya menjadi Kabag Personalia pada tahun 1977, setelah sebelumnya memangku jabatan sebagai Kasubag Pegawai Daerah. Hendro boleh dikatakan potret dari birokrat tulen. Bahkan ia mengakui bahwa darah birokrasi sepertinya memang mengental dalam dirinya. Sebagai birokrat ia kenyang dengan berbagai pengalaman, dari menjadi Camat di tiga wilayah, berturut-turut sebagai Camat Kedung tahun 1981, Camat Mlonggo dan Camat Mayong hingga tahun 1987. Hendro dikenal sebagai pemimpin yang mempunyai mobilitas yang cukuptinggi. Hampir setiap hari, saat tidak ada suatu acara yang penting, ia menyempatkan untuk berkeliling di wilayah Kabupaten Jepara.

Respon dan penanganan terhadap berbagai persoalan di daerahnya juga tinggi. Sebagai contoh, begitu ia mendapat laporan tentang adanya kerusakan gedung SD di wilayah terpencil, ia langsung meninjaunya. Saat para staf belum sampai di lokasi, Bupati sudah mengunjungi lebih dulu. Disamping itu Hendro juga dikenal sebagai figur pemimpin yang dekat dengan berbagai kalangan. Salah satu kebiasaannya adalah melakukan silaturahmi atau mengunjungi masyarakat dan tokoh masyarakat dari berbagai golongan atau lapisan. Prinsipnya, dengan membiasakan silaturahmi dan komunikasi dua arah, maka tidak ada persoalan yang tidak dapat diselasaikan. Selain itu sebagai pimpinan ia senantiasa mengedepankan keteladanan. Demikian pula kepada jajaran dan staf di Pemkab Jepara, Hendro Martojo senantiasa mengajak untuk menyelesaikan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Disamping itu juga mengharapkan agar dalam bekerja melakukannya dengan ihlas, membuat perencanaan kerja yang baik dan berpikiran inovatif.

Salah satu bentuk inovasi yang dilakukannya dalam rangka menggairahkan iklim usaha dan investasi Hendro melakukan terobosan dengan membangun Kawasan Industri Mulyoharjo (KIM), yang juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang representatif. Untuk menempati KIM, pengusaha hanya dikenakan tarif retribusi sebesar 50 persen dari ketentuan daerah. Terobosan lain yang dilakukan oleh Hendro adalah pembangunan Jepara Trade Centre (JTC) di Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan. Keberadaan JTC ini diharapkan mampu menjembatani kepentingan dunia usaha di Jepara dengan pasar. Ketika para pengrajin mebel mulai merasakan kesulitan dalam pengadaan bahan baku, utamanya kayu jati, bersama stakeholders di bidang mebel dan bahan baku ini, Hendro juga tak luput melakukan upaya pencarian kayu jati hingga luar Jawa, utamanya di kawasan Indonesia Timur, mulai dari Bhuton, Muna, Halmahera.

(Swara Mandiri)